Rabu, 02 Desember 2009

ITTEK sertifikasi 3 tahun pelatihan migas

ITTEK adalah Pendidikan dan Pelatihan Ahli Madya Teknik Perminyakan 3 tahun dengan penekanan pada bidang Teknik Pemboran dan Teknik Produksi migas. Kampus ITTEK berdiri di Bojonegoro suatu wilayah yang kaya minyak dan gas bumi di Jawa timur  Indonesia.

ITTEK juga bertindak sebagai koordinator para pekerja migas yang tergabung dalam Paguyuban Pekerja Migas Bojonegoro ( P2MB) . Paguyuban ini memiliki ratusan anggota yang telah bersertifikat dan berpengalaman dalam bidang Drilling ( restabout, floorman, derrickman, assisten driller, driller dll.) , Production ( operator, well test specialist, dll.) , Construction ( Welding Inspector, NDT Specialist, Welder, Fitter, Rigger, dll.) , Technician ( mechanic, electric, instrument, dll.) , HSE ( safetyman, safety inspector, H2S safetyman, dll.) , sopir dan pekerja kasar.

ITTEK siap bekerja sama dalam pelaksanaan proyek proyek migas ataupun sebagai pemasok tenaga kerja.

Selasa, 01 Desember 2009

Negara Penghasil Polusi CO2 Terbesar

penyebab pemanasan global adalah karena meningkatnya efek rumah kaca. Peningkatan efek rumah kaca itu sendiri di sebabkan oleh meningkatnya kadar gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.

Selama ini negara-negara di dunia ketiga alias negara berkembang selalu di tuding sebagai biang dari meningkatnya kadar gas CO2 tersebut. Industri yang tidak ramah lingkungan, penebangan hutan secara liar, meningkatnya jumlah kendaraan menjadi beberapa alasan di antaranya.

Sebuah lembaga riset independen yang berbasis di Amerika, CGD (Center for Global Development), menunjukkan di mana penghasil gas CO2 berada dan berapa banyak gas CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dan menyebabkan kenaikan efek rumah kaca.

CGD menjelaskan bahwa pembangkit listrik merupakan kontributor terbesar penghasil CO2 (sekitar 25 % dari total emisi CO2). CGD mengumpulkan data dari sekitar 50.000 pembangkit listrik di seluruh dunia dan mengumpulkannya dalam suatu database yang disebut CARMA (Carbon Monitoring For Action).

Data yang dikumpulkan dalam CARMA berasal dari laporan pemerintah dan pembangkit itu sendiri. Bila data yang diperoleh masih kurang, CARMA melakukan perkiraan emisi dengan metode statistik berdasarkan jenis dan umur pembangkit listrik, bahan bakar yang digunakan, serta jumlah energi yang di hasilkan. CARMA berhasil mengumpulkan daftar negara penghasil emisi CO2 terbesar dari sektor pembangkit listrik serta daftar pembangkit listrik di seluruh dunia yang paling banyak menghasilkan emisi CO2.

Minggu, 09 September 2007

Energi Panas Bumi Indonesia

Pemanfaatan energi panas bumi memang tidak mudah. Energi panas bumi yang umumnya berada di kedalaman 1.000-2.000 meter di bawah permukaan tanah sulit ditebak keberadaan dan "karakternya". Investasi untuk menggali energi panas bumi tidak sedikit karena tergolong berteknologi dan berisiko tinggi. Investasi untuk kapasitas di bawah satu MW, berkisar US$ 3.000-5.000 per kilowatt (kW). Sementara untuk kapasitas di atas satu MW, diperlukan investasi US$ 1.500-2.500 per kW. Tantangan selanjutnya adalah akibat sifat panas yang "site specific" kondisi geologis setempat. Karakter produksi dan kualitas produksi akan berbeda dari satu area ke area yang lain. Penurunan produksi yang cepat, sebagai contoh, merupakan karakter produksi yang harus ditanggung oleh pengusaha atau pengembang, ditambah kualitas produksi yang kurang baik, dapat menimbulkan banyak masalah di pembangkit. Misainya, kandungan gas yang tinggi mengakibatkan investasi lebih besar di hilir atau pembangkitnya.

Dalam pembangkitan listrik, harga jual per kWh yang ditetapkan PLN dinilai terialu murah sehingga tak sebanding dengan biaya eksplorasi dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Dalam hat ini, PLN tidak bisa disalahkan karena tarif dasar listrik yang ditetapkan pemerintah masih di bawah harga komersial, yaitu tuluh sen dollar AS per kWh.

Di sisi lain, adanya potensi panas bumi di suatu daerah biasanya di pegunungan dan terpencil-sering tak bisa dimanfaatkan karena kebutuhan listrik di daerah itu sedikit sehingga belum ekonomis untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan energi panas bumi tersebut.

Sumber : Dep.ESDM